SEJARAH DESA

Sejarah Desa

  1. Asal Usul Kebon Agung, Gajahmati Dan Jumo

Kurang lebih pada tahun 1571 M atau abad ke 15 ada seorang Pemuda yang bernama Pangeran Jumani atau  lebih dikenal dengan nama Pangeran  Abdurrohman           ( Waliyullah ) dari banten yang di perintah oleh kedua orang tuanya untuk berkelana / Jajah Deso Milang Kori maka beangkatlah beliau dengan berkendaraan seekor gajah dalam berkelananya beliau sampai di sebuah daerah dan beliau beristirahat di sebuah gubug di tengah sawah dan beliau berujar “ Daerah ini ku beri nama Gubug “ kemudian beliau melanjutkan perjalanannya lagi dan tiba di sebuah daerah tiba – tiba gajah yang jadi kendaraannya meninggal, kemudian beliau mencabut pohon Bambu untuk mengobati Gajahnya dan bekas Cabutannya membentuk lubangan sehingga daerah itu di namakan Desa Blumbang, Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya kembali dengan gajahnya yang telah hidup lagi dan sampailah beliau di daerah gunung Kendeng, kemudian beliau istirahat sambil menunggu waktu sholat dhuhur, ketika waktu sholat telah tiba dan beliau ingin mengambil air wudhu tetapi tidak ada air sama sekali kemudian beliau menghentakkan kakinya ketanah sehingga terbentuklah lobang dan keluarlah air dari dalam tanah bekas hentakan kakinya sehingga sampai sekarang menjadi sebuah Sendang dan beliau berujar “ daerah ini ku beri nama KEBON AGUNG “ Setelah beliau Sholat Dhuhur kemudian melanjutkan perjalanannya lagi dan baru beberapa saat tiba-tiba gajah yang menjadi kendaraannya meninggal lagi dan beliau berujar “ daerah ini ku beri nama GAJAH MATI “ kemudian beliau melanjutkan perjalanannya lagi dan sampailah beliau di oro – oro yang sangat sunyi sekali sampai akhirnya beliau menatap disitu dan mendirikan sebuah musholla Ghoib yang sampai sekarang masih bisa dibuktikan bekas sujudnya di sebuah batu yang menjadi tempat beliau sholat sampai akhirnya beliau berjuluk mbah Jumo dengan  harapan daerah itu menjadi daerah yang maju agamanya (Majuning Agomo). Setelah  empat tahun lamannya keponakan beliau  yang bernama Raden Sujoko putra dari Pangeran Kertoyoso di utus oleh ayah beliau untuk menjeputnya, Pangeran Sujoko Sampai di daerah Demak dan beliau jatuh hati dengan seorang gadis yang bernama Siti Kalimah Putrinnya Siti Khotijah yaitu Cucu dari Sunan Kalijogo sampai akhirnya mereka berdua menikah, kemudian Raden Sujoko melanjutkan perjalanannya mencari Pangeran Abdurrohman  namun ternyata beliau Sudah meninggal dan dimakamkan di Desa Jumo sehingga sampai Sekarang makam  beliau di sebut dengan Makam Punden  mbah Jumo, karena beliau  meninggal belum menikah maka perjuangan Beliau diteruskan oleh Raden Sujoko.

Raden Sujoko dan Siti Kalimah mempunyai Tujuh orang anak yaitu :

  1. Singo Yudo ada di desa Wiru Bringin
  2. Singo Dongso ada di desa Kaliwenang
  3. Tabrani ada di Desa Jumo
  4. Taguno ada di Desa Kuwaron
  5. Joyo Anggodo ada di Desa Mrisi
  6. Joyo Limengan ada di Desa Ngambak Rejo
  7. Joko Suro Ada di Desa Kapung

Perjuangan Raden Sujoko di Desa Jumo di teruskan  Putranya yang bernama Raden Tabrani yang mempunyai anak bernama Raden Abdul Karim Lurah  pertama Desa Jumo.

 

  1. Asal Usul Persen, Krangkong, Karangrandu dan Dawung

Setelah Mbh Jumo Bermukim dan Menetap beliau kedatangan Sahabat-sahabatnya Prajurit kerajaan Demak diantaranya Mbah Juwala/Mbah Ahmad Khusen ( Menjadi Nama Sendang Presen), Mbah Jatruno ( Menjadi Nama jembatan Jumo- Gajahmati) dan  Mbah jaya Wira/Jawera (Karangrandu)

Mbh Juwala/ Mbh  Ahmad Khusen yang oleh mbh Abdurrohman di suruh Bubak di Daerah timur Gajamati yang kemudian oleh beliau diberi nama  PERSEN  yang artinya daerah pemberian dari Mbh Abdurrohman, mbh Juwala kemudian memperluas daerah bubakannya beliau kemudian bubak dan beliau membuat Brumbung /Tandon Air                          (Di Daerah Bengkok Lurah)  karena beliau kelelahan beristirahat di bawah Pohon besar yang bernama Pohon Krangkong dan beliau berujar “ di Daerah ini Aku beri rnama KRANGKONG ”.

Perang Diponegoro meletus pada Tahun 1825M – 1830M Dewi Mursiyah adalah salah satu Keluarga mataram yang Melalang buana melarikan diri sambil menyusun Kekuatan untuk berjuang melawan penindasan penjajah  Belanda. Beliau dalam pelariannya didamping oleh abdinya yaitu  Mbah Pariyah. Sesampainya di tengah hutan belantara ( Sekarang Ngecis kedungjati ) beliau kehausan dan beliau menggali tanah dan keluarlah Air yang berbau banger hingga sekarang tempat itu di beri nama sendang Banger. Kemudian beliau melanjutkan berjalan di arah timur dan di daerah bulakan banyak tumbuh pohon randu sehingga daerah tersebut beliau beri nama daerah KARANGRANDU,  dan kemudian beliau membuat brumbung air dan di di beri nama Brumbung Karangrandu. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya dan sampailah di tepi sungai tuntang dan beliau beristirahat di bawah  pohon kedawung dan beliau berpesan kepada mbh Pariyah :

  1. Mbah Pariyah tidak boleh meninggalkan daerah Brumbung Karangrandu sampai meninggalnya beliau tetap di daerah itu ( Makamnya di sekitar Brumbung ).
  2. Daerah tempat beliau beristirahat di bawah pohon kedawung diberi nama

Kemudian Dewi Mursiyah melanjutkan perjalanannya sendirian sampai di daerah Temurejo dan berakhir di daerah Candi Purwodadi.

Setelah Raden Abdul Karim tampuk pimpinan di Desa Jumo dilanjutkan Simbah Yahman ( Mbh Bolong ) kemudian beliau pada tahun 1947 digantikan Lurah Ahmad dan pada masa pemerintahan simbah lurah Ahmad meletus pertempuran antara para Tentara Pejuang kemerdekaan dengan tentara belanda termasuk di Desa Jumo sehingga Masyarakat diajak mengungsi oleh simbah lurah Ahmad bersama dengan beliau ke Desa seberang sungai tuntang sehingga terjadilah kekosongan pemerintahan desa dan seorang warga yang bernama  Simbah Dhoto diangkat oleh belanda menggantikan beliau menjadi lurah di desa jumo, sampai kemudian pertempuran mereda dan simbah lurah ahmad dan masyarakat yang tadinya mengungsi kembali kedesa dan  selanjutnya pemerintahan desa jumo di pegang oleh beliau lagi selanjutnya Diadakan program trilogi desa  dari simbah Lurah Ahmad dengan  membangun Lumbung Desa, Kantor Desa dan Sekolah Desa.

Pada tahun 1963 Pergantian simbah Lurah Ahmad Kepada Lurah Muhammad dan pada tahun 1965 di gantikan oleh simbah Kusno Miharjo beliau sangat tegas dan di Segani oleh masyarakat Desa Jumo, pada tahun 1976 ada Pembangunan Inspres SD Inpres SDN 1 Jumo di dusun Dawung,  kemudian pada tahun 1982 di bangunlah inpres SDN 2 Jumo di Dusun Jumo , dan selanjutnya Inpres SDN 3 Jumo di Dusun kebon Agung. Pada tahun 1988 tampuk Pimpinan desa Jumo di Pegang Oleh Bapak Dawam yang semula beliau adalah seorang Modin di Dusun Jumo pada saat pemerintahan  beliau, beliau memindahkan pusat Pemerintahan Desa yang asalnya di Dusun Karangrandu ke Dusun Jumo. Dan Beliau juga mendukung berdirinya sekolah menengah pertama di desa Jumo Yaitu SMP Islam Jumo yang di pelopori Yayasan Pendidikan Islam Al huda. Dan selanjutnya pada tahun 1998 kepemimpinan beliau di lanjutakan oleh Bapak Untung Kuswanto beliau adalah Putra Mantan Lurah yaitu Simbah Kusno Miharjo, dan pada tahun 2007 terpilihlah bapak Harnomo untuk menggantikan beliau dalam  sebuah pencalonan dan pemilihan  kepala Desa jumo yang di ikuti oleh :

  1. Harnomo
  2. Untung Kuswanto.
  3. Rasno
  4. Hartanto
  5. Suroso
  6. Turmudzi

        pada massa inilah banyak kemajuan yang terjadi di Desa Jumo, pembangunan di segala sector digiatkan sehingga Desa Jumo tidak kalah Maju dengan desa-desa yang lainnya di Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan.

Pada tahun 2013 Bapak Harnomo, S.H terpilih kembali sebagai Kepala Desa Jumo untuk Periode yang kedua yaitu periode 2013-2019 pada pencalonan ini hanya di ikuti oleh beliau dan Istri beliau Ibu Mufatakhah, A.Ma.

Pada periode yang kedua pemerintahannya, beliau  semakin bersemangat membangun tidak hanya fisik Desanya saja namun  mental masyarakat Desa Jumo juga beliau bangun dengan kegiatan-kegiatan keagamaan diantaranya :

  1. Kegiatan Tarling dan Kultum di Masjid-masjid se Desa jumo pada bulan Romadhon
  2. Pengajian Lapanan Muslimat/Fatayat bergilir di Masjid se Desa jumo
  3. Manaqib dan Pengajian Akbar tiap Peringatan Apitan
  4. Beliau Aktif pada kegiatan manaqib Syaech Abdul Qodir Al Jaelani
  5. Beliau Juga Mendawamkan Puasa Sunah Senin Kamis.

Pada Tahun 2016 Desa Jumo mendirikan Badan Usaha Milik Desa Yang bergerak di Bidang Usaha :

  1. Unit Tirta Lestari ( Melayani Masyarakat Kebutuhan air bersih )
  2. Unit Arta Lestari ( Simpan Pinjam )

    PERESMIAN BUMDES